Lebih dari 29 juta petani di Indonesia terus berjibaku. Kontribusi sektor pertanian terhadap perekonomian nasional terus menurun, seiring produktivitas yang stagnan, dan meningkatnya aktivitas ekonomi di sektor industri dan jasa. Regenerasi petani berjalan lambat, sementara mayoritas petani Indonesia kini berada di kelompok usia tua. Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2023 mencatat 66,44% petani berusia di atas 45 tahun.
Di tengah berbagai tekanan struktural di sektor pertanian, petani Indonesia tidak serta-merta menyerah. Semangat beradaptasi dan berinovasi ini terekam nyata dalam film dokumenter produksi Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) berjudul “Besok Kita Nanem Lagi”.

Sardi, petani beras yang sudah mengurus lahan selama tiga dekade. (Kredit foto: CIPS)
Film ini mengikuti kisah Sardi dan Ryan, dua petani dari generasi yang berbeda. Sardi, yang telah bertani sejak 1990-an, adalah bukti kegigihan generasi tua yang terus mencari siasat untuk bertahan menghadapi ancaman hama, persoalan benih, hingga kebijakan yang sering kali tidak memihaknya.
Di sisi lain, Ryan, petani beras organik asal Karawang, yang baru mulai bertani pada 2024, mewakili wajah generasi baru petani Indonesia. Menghadapi tingginya biaya produksi dan pasar yang terbatas, Ryan mencoba memanfaatkan media sosial dan e-commerce untuk berekspansi.
Kepala Peneliti CIPS, Aditya Alta, menjelaskan tantangan yang dihadapi sektor pertanian di Indonesia.
"Ketika sektor lain berkembang lebih cepat, banyak petani berhadapan dengan risiko yang membatasi mereka. Sekitar tujuh dari sepuluh petani kita adalah produsen skala kecil, dengan lahan di bawah satu hektare dan pendapatan rata-rata mereka kurang dari Rp85.000 per hari," ujar Aditya.
Sutradara “Besok Kita Nanem Lagi”, Eky Triwulan, mengatakan film ini ingin memperlihatkan bahwa para petani bukan sekadar pekerja pangan, tetapi individu yang gigih bertahan di tengah perubahan di sekitar mereka.

Poster film dokumenter “Besok Kita Nanem Lagi”. (Kredit foto: CIPS)
“Melalui kisah Sardi dan Ryan, kami melihat bagaimana petani terus mencari cara untuk beradaptasi. Mereka menghadapi tantangan yang berbeda di tiap generasi, tetapi punya semangat yang sama untuk menjaga pertanian tetap hidup,” ungkap Eky.
Menurut Eky, film ini juga ingin membawa publik lebih dekat dengan realitas keseharian petani yang kerap luput dari perhatian. Di balik pembahasan tentang pangan, produksi, dan harga, ada kehidupan yang terus berjalan di tengah ketidakpastian yang mereka hadapi setiap hari.
“Ada orang-orang yang setiap hari hidup dengan ketidakpastian, tetapi tetap memilih kembali ke sawah dan menanam lagi. Semangat pantang menyerah itulah yang ingin kami angkat lewat ‘Besok Kita Nanem Lagi’,” ujar Eky.
“Besok Kita Nanem Lagi” akan tayang perdana dalam rangkaian acara BEKAL MAPAN yang digelar di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada 22–23 Mei 2026. Acara ini merupakan bagian dari inisiatif Masa Depan Pangan (MAPAN) yang diinisiasi CIPS untuk menghadirkan suara para pejuang pangan ke ruang publik.
Sebagai bagian dari rangkaian tersebut, CIPS juga mengadakan roadshow nonton bareng “Besok Kita Nanem Lagi” di Aceh, Makassar, Sumedang, Surabaya, dan Semarang pada 19–23 Mei 2026.
Tonton trailer film dokumenter "Besok Kita Nanem Lagi" di sini.