Kembali ke Berita Terkini

22 May 2026

BEKAL MAPAN Hadirkan Ruang untuk Suarakan Petani, Nelayan, dan Masa Depan Pangan

CIPS menghadirkan inisiatif Masa Depan Pangan (MAPAN) untuk memperluas diskursus publik mengenai sistem pangan yang lebih inklusif, terbuka, dan berfokus pada kesejahteraan petani serta nelayan.

BEKAL MAPAN Hadirkan Ruang untuk Suarakan Petani, Nelayan, dan  Masa Depan Pangan

Isu pangan tidak hanya berkaitan dengan produksi dan harga, tetapi juga menyangkut kesejahteraan petani dan nelayan yang menjadi kunci dalam sistem pangan Indonesia. Di tengah perannya yang strategis, banyak pelaku di sektor pertanian dan perikanan masih menghadapi berbagai keterbatasan, mulai dari akses pasar, dukungan usaha, hingga peluang untuk berkembang. Melihat kondisi tersebut, Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menghadirkan Masa Depan Pangan (MAPAN), sebuah inisiatif yang bertujuan memperluas percakapan publik mengenai pentingnya sistem pangan yang lebih terbuka, inklusif, dan mendukung kesejahteraan petani serta nelayan di Indonesia.

Sebagai bagian dari inisiatif ini, CIPS menggelar BEKAL MAPAN (Bersama Kawal Masa Depan Pangan), sebuah ruang temu bagi publik, komunitas, akademisi, dan masyarakat luas yang ingin menyuarakan masa depan pangan Indonesia. "Pembahasan soal pangan selama ini kerap terlalu berkutat pada produksi hingga harga. Padahal, ada persoalan mendasar terkait kebebasan berusaha, akses pasar, dan pelindungan hak atas sumber daya terhadap mereka yang bekerja di balik sistem pangan Indonesia," ungkap CEO CIPS, Anton Rizki.

Acara yang berlangsung di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada 22–23 Mei 2026 ini menghadirkan berbagai aktivitas, mulai dari pameran foto Suara MAPAN, sesi diskusi Bahas Masa Depan Pangan, hingga pemutaran film dokumenter “Besok Kita Nanem Lagi”. Film dokumenter ini mengikuti kisah Sardi dan Ryan, dua petani dari generasi yang berbeda.

Sardi, yang telah bertani sejak 1990-an, adalah bukti kegigihan generasi tua yang terus mencari siasat untuk bertahan menghadapi ancaman hama, persoalan benih, hingga kebijakan yang sering kali tidak memihaknya.

Di sisi lain, Ryan, petani beras organik asal Karawang, yang baru mulai bertani pada 2024, mewakili wajah generasi baru petani Indonesia. Menghadapi tingginya biaya produksi dan pasar yang terbatas, Ryan mencoba memanfaatkan media sosial dan e-commerce untuk berekspansi.

“Besok Kita Nanem Lagi” ingin membawa publik lebih dekat dengan realitas keseharian petani yang kerap luput dari perhatian. Di balik pembahasan tentang pangan, produksi, dan harga, ada kehidupan yang terus berjalan di tengah ketidakpastian yang mereka hadapi setiap hari.

“Ada orang-orang yang setiap hari hidup dengan ketidakpastian, tetapi tetap memilih kembali ke sawah dan menanam lagi. Semangat pantang menyerah dan berinovasi itulah yang ingin kami angkat lewat ‘Besok Kita Nanem Lagi’,” tutup Anton.

Share ke Media Sosial:

✓ Link berhasil disalin!